Arsip Tag: payung teduh

5 Lagu Ini Bisa Bikin Hatimu Adem Seketika, Meski Hujan Deras Melanda

Kamarmusik.net, JAKARTA – Apa sih yang kamu bayangkan saat melihat hujan turun dengan derasnya? Galau dan rindu menjadi satu. Pikiran seakan melayang jauh, imajinasi kadang menari-nari, banyak hal yang nggak pernah terpikirkan seketika melintas. Pe-er sekolah, tugas kuliah, pekerjaan kantor, sampai yang paling mainstream: membayangkan mantan. Biar nggak gagal fokus, paling enak sih dengerin lagu yang mendukung.

Hujan adalah melodi alam yang hanya bisa didengar dan dirasakan oleh hati. Seperti munculnya pelangi setelah langit cerah. Beberapa lagu ini yang Kamar Musik nilai matching diputar saat turunnya hujan.

Hujan Turun – Sheila on 7

5 Lagu Ini Bisa Bikin Hatimu Adem Seketika, Meski Hujan Melanda

Track yang nangkring di album Berlayar ini diciptakan oleh Adam Muhammad Subarkah. Pembetot bass Sheila on 7 ini mengungkapkan bahwa lagu ini nyurhatin kisah soal bagaimana seseorang bisa survive ketika sedang menghadapi masalah paling berat sekalipun. Kata hujan di lagu ini adalah metafora dari setumpuk permasalahan hidup. Lagu bertempo medium ini bisa menyentil jiwa-jiwa cengeng yang tiap sebentar galau. Beeuuhh, tambah baper aja deh nih.

Waktu hujan turun/ Di sudut gelap mataku/ Begitu derasnya/ Kan ku coba bertahan//

Angin Pujaan Hujan – Payung Teduh

5 Lagu Ini Bisa Bikin Hatimu Adem Seketika, Meski Hujan Turun Melanda

Payung Teduh emang paling bisa deh memelintir kalimat jadi lirik lagu yang bikin kita kagum. Para musisi jebolan Universitas Indonesia ini memilih lagu ini sebagai singel utama di debut album mereka. Band yang terbentuk akhir tahun 2007 ini sukses menghadirkan warna khas mereka dengan rangkaian bahasa nan puitis. Lagu ini mengungkap penantian sia-sia seorang cowok ke sang gebetan yang ternyata si cewek lebih memilih cowok lain.

Datang dari mimpi semalam bulan bundar/ Bermandikan sejuta cahaya di langit/ Yang merah ranum seperti anggur/ Wajahmu membuai mimpiku/ Sang pujaan tak juga datang/ Angin berhembuskan bercabang/ Rinduku berbuah lara uh lara//

Hujan – Utopia

5 Lagu Ini Bisa Bikin Hatimu Adem Seketika, Meski Hujan Turun Melanda

Lagu band Utopia ini kembali populer setelah didaulat menjadi theme song sinetron Ganteng Ganteng Serigala. Tarikan suara Pia yang berenergi plus alunan beat ceria, membuat khayalan orang yang mendengar jadi melambung.

Selalu ada cerita/ Tersimpan di hatiku/ Tentang kau dan hujan/ Tentang cinta kita/ yang mengalir seperti air//

Saat Hujan – Fade 2 Black feat Audrey

5 Lagu Ini Bisa Bikin Hatimu Adem Seketika, Meski Hutan Turun Melanda

Masih ingat grup hip hop yang merupakan mantan tandem Bondan Prakoso? Untuk membuat lagu ini menjadi keren, Fade 2 Black sampai harus menggaet Audrey Tapiheru. Hasilnya? Paten! Kolaborasi mereka membuat lagu ini makin sip ketika didengar. Meski hujan deras dan petir bersahutan, kamu tetap bakal hanyut dengan lagu ini.

Aku pun begitu mendamba pelangi/ Karena sepanjang ku nikmati hujan/ Aku berharap matahari biaskan rinaimu/ Ciptakan pelangi indah untukku Ini hujanku//

Hujan di Mimpi – Banda Neira

5 Lagu Ini Bisa Bikin Hatimu Adem Seketika Meski Hujan Deras Melanda

Lagu mellow ini terangkum di album Berjalan Lebih Jauh. Padu padan vokal berat Ananda Badudu dengan vokal lembut Rara Sekar, bisa menyeret alam bawah sadarmu kepikiran sama someone spesial. Hujan yang merupakan kekuatan semesta mampu mempertemukan dua hati manusia, dalam suasana riang atau hati yang lagi “meriang”.

Ku tumbuh berbunga/ Harum dan berwarna/ Karena kau hujaniku/ Ku tumbuh dewasa/ Dan tambah percaya/ Kau hujaniku/ Kau basahi aku/ Hujani aku/ Kau basahi aku/ Hujani aku//

Seperti hujan yang meneduhkan bumi yang kemarau. Lagu-lagu di atas juga ampuh lho untuk mengusir rasa galau.

(@edofumikooo)

 

DUNIA BATAS: Payung Teduh, Antologi dari Puisi, Musik dan Melankolia

Kamarmusik.net, JAKARTA – Jika hari ini anda membawa payung, saya bertaruh anda tak sampai harus berbasah kuyup. Apalagi terpaksa harus terpanggang terik matahari seperti sembilu. Jika anda mendengar album kedua Payung Teduh bertajuk Dunia Batas, saya jamin anda menemukan atmosfer teduh sekaligus sendu.

Barangkali begitu saya memercayai relasi di balik makna nama kelompok musik ini. Setidaknya begitulah yang terjadi pada Payung Teduh, mengaliri diri mereka dengan warna musik yang unik, bagaimana mengutarakannya?

Saya bisa memilih kata pop, folk, dan akustik yang teramu dalam racikan retro nan pekat. Ramuan musik ini yang kemudian mampu menjadi payung yang lantas menyihir teduh hati serta indra pendengaran.

Awalnya saya berpikir, bukankah mereka terdengar seperti versi SORE dalam balutan lebih klasik? Sayangnya pemikiran itu mendadak terbenam seusai melahap habis 8 tracks dari album kedua Payung Teduh ini. Jika album debut self titled mereka hanya dimaknai sebagai sebuah sekapur sirih perkenalan, maka Dunia Batas adalah tajinya.

Tanpa basa-basi, Dunia Batas kembali membawa Payung Teduh kedalam nuansa melankolis mendayu-dayu. Delapan tembang didalamnya mengalun dalam tempo yang pelan, dimana seolah menyiratkan disitulah ‘keteduhan’ mereka sedang bekerja. Terlebih dengan lirik-lirik mereka yang terbingkai cantik oleh diksi puitis.

Track Demi Track yang Meneduhkan Dari Payung Teduh

Track pertama “Berdua Saja” dilepas dengan intro petikan gitar yang parau. Suara bersahaja meluncur dari bibir sang vokalis, membuat suasana kian syahdu. Track kedua hadir dengan inspirasi sebuah senja dan hati yang lara.

“Menuju Senja” bisa jadi track dengan kisah klise untuk para penggalau, namun nyatanya latar senja, nukilan-nukilan harapan, serta penantian adalah kombinasi sempurna untuk sebuah elegi tentang cinta.

Tak habis sampai disana, Payung Teduh memainkan harmoni kalem mereka pada tembang bertajuk “Perempuan Yang Sedang Di Pelukan”. Tembang ini bisa dikatakan sebuah kontemporer folk-pop yang dibebani nuansa sayu pada permainan gitar akustik, cajon dan contra bass mereka.

Saya tergila-gila pada intro akustik milik tembang “Rahasia”. Terlebih pemilihan diksi pada liriknya yang bergumam begini “Harum mawar membunuh bulan/ Rahasia tetap diam tak terucap/ Untuk itu semua aku mencarimu//

Sungguh terdengar cantik, romantis sekaligus ironi. Menuju ke sebuah tembang masterpiece, bagi saya di album ini ialah “Angin Pujaan Hujan”. Rasakan warna musik Indonesia tempo 60’an merasuk kedalam olahan kontemporer mereka. Ini diperkuat oleh alunan keroncong yang sayup-sayup merancang sebuah kolaborasi teduh didalamnya.

Tak salah bila tembang ini pula yang akhirnya dijadikan single pamungkas dalam Dunia Batas. Beranjak ke track “Di Ujung Malam”, sebuah lagu dengan lirik paling sedikit dibandingkan lagu-lagu lain milik mereka. meski hanya memuat lima baris, namun dirapalkan oleh Is dengan penuh makna.

“Resah” adalah tembang ketujuh dan salah satu favorit saya lantaran harmonisasinya yang dibuat bak sebuah musikalisasi puisi. Saya mendapati sebuah ketulusan dan pengharapan yang sungguh melalui lirik dan permainan instrumen yang mereka suratkan itu. Vokal Is pun terdengar lebih lirih dan berdialog.

Sebagai sebuah penutup yang manis, track semacam “Biarkan” adalah happy ending yang mengguratkan seribu kenangan pada liriknya tersebut. Dan saat saya mendengarkan kalimat Biarkan dewi malam menatap sayu/ Meratapi bulan yang memudar// Oh sungguh diksi yang sungguh menggungah relung sanubari.

Dunia Batas, Puisi yang Bermusik atau Musik yang Tengah Berpuisi?

Cover artwork album ini seolah membingkai sebuah estetika surealis penuh cita rasa. Dengan memilih warna hijau muda, terilustrasi sebuah pohon besar, rindang nan teduh namun dengan posisi merunduk, seolah usai diguncang badai hebat. Apa maknanya? Hanya pujangga dan pelukis ternama yang bisa meraba kegalauan ilustrasi mereka.

Dunia Batas itu bak antologi puisi yang bermusik atau malah musik yang tengah berpuisi. Bagaimana pun menjulukinya, Dunia Batas adalah karya revolusioner anak bangsa yang meneduhkan kembali musik Indonesia dengan sebuah kualitas sebagai akarnya.

Penulis : Putra Adnyana

Editor : Doddy Irawan